Hari Jum’at itu
Matahari bersinar cukup menyengat. Ahmad bergegas menyelesaikan sisa pekerjaan
menjelang waktu suara Adzan berkumandang memanggil untuk menunaikan sholat Jum’at. Setengah berlari, dengan sigap Ahmad
mengganti sepatu dengan sandal jepitnya, yang setia menemani menapaki jalan
ketaqwaan menuju arah Masjid Raya, yang biasa jadi pilihan untuk sholat Jum’at, jika waktu dan pekerjaan di
kantor agak sedikit longgar. Maklum antara Kantor tempatnya bekerja dengan
Mesjid Raya kurang lebih berjarak satu setengah KM, cukup jauh jika ditempuh
dengan berjalan kaki .
Mesjid di lingkungan kantor memang ada, tapi hari itu Ahmad terasa
rindu untuk Sholat Jum’at di Mesjid Raya, sudah satu bulan lebih sibuk dengan
pekerjaan, hingga baru kali ini sempat untuk sholat Jum’at di sana.
Jarak yang harus ditempuh menuju Masjid Raya kurang lebih 20 menit dengan
berjalan kaki, melewati taman kota yang siang itu ramai karena ada pameran
kuliner nusantara, yang menyajikan aneka masakan yang menggugah selera.
“Kayaknya enak nih, kalo pulang sholat mampir ke sini”, Ahmad bergumam sendiri,
sambil menyusuri jalan setapak di taman kota.
Memasuki pintu
gerbang Masjid, dilihatnya seorang nenek
tua penjual kantong kresek untuk bungkus sandal atau sepatu saat di mesjid,
yang menjadi langganannya. Ada banyak anak-anak dan ibu-ibu yang menggendong
anak sambil menjajakan kantong kresek, tapi Ahmad selalu membeli kantong kresek
dari seorang nenek langganannya. Wajah si nenek itu tampak berbinar saat bertatap
mata dengan Ahmad. “Apa khabar Nek, maaf ya saya sudah lama gak sempat sholat
disini”, sapa Ahmad sambil mencium tangan si Nenek, tidak lupa tangan Ahmad
menggenggam erat tangan Si Nenek sambil menyelipkan selembar uang sepertinya
pecahan seratus ribuan, sebagai ganti kantong kresek, yang biasanya diharganya
tidak lebih dari dua ribu rupiah.
“Alhamdulillah Nak nenek sehat, kemana saja sudah lama gak kelihatan?”, Si
Nenek balas menyapa. Badannya yang mulai
sedikit bungkuk ditelan usia, dengan raut muka yang teduh, namun sayup matanya
menampakkan bahwa dia sedang menyembunyikan beban hidup yang berat. Ingin
rasanya Ahmad berbincang lama dengan si Nenek, untuk sekedar ingin tahu
bagaimana kondisi cucunya saat ini, apakah masih bersekolah atau tidak. Karena
setahu Ahmad, sekolah di Jakarta memang tidak dipungut biaya, namun tetap saja ada biaya lain yang harus
dikeluarkan untuk kebutuhan alat tulis, sepatu seragam, dan tas sekolah, dan itu terasa berat untuk si
Nenek yang tidak punya penghasilan tetap.
Ahmad tahu
betul kondisi si Nenek dari cerita pada pertemuan sebelumnya. Anak dan
menantunya telah tiada, dengan meninggalkan tiga orang anak
yatim yang kini menjadi tanggungannya. Berjualan kantong kresek setiap Jumat,
sedikit membantu beban ekonomi karena
umumnya jamaah masjid menyelipkan uang ganti kantong kresek, lebih dari
harga kantong tersebut. Jadi kalo dihitung-hitung si nenek bisa membawa uang
setiap jumat kurang lebih seratus ribuan, lumayan untuk
sekedar menyambung hidup beserta cucunya. Ahmad tidak tahu, apa penghasilan
lain si Nenek. Nyatanya Allah Maha penyayang, tetap memberikan rizki kepada
siapapun tanpa pandang bulu. Allah Sang
Pencipta telah menggerakkan hati Ahmad untuk sholat Jum’at di Mesjid Raya, karena
disana ada skenario Allah menurunkan rizki kepada seorang nenek melalui
perantaraan tangan Ahmad.
Hingar-bingar
kesibukan pekerjaan terkadang melalaikan kita untuk dapat berbuat lebih
membantu kaum yang kurang beruntung. Mereka yang membutuhkan uluran tangan kita,
ada di mana-mana. Namun, sayangnya mata
hati kita tidak cukup tajam untuk melihatnya. Terasa ringan untuk mengeluarkan
ratusan ribu untuk sekedar membeli makanan melalui ojek online yang enaknya
hanya selewatan lidah. Namun, terasa berat buat bagi sebagian orang untuk
menyisihkan seribu-dua ribu rupiah setiap hari untuk mereka yang kurang beruntung.
Ahmad mungkin hanya pegawai biasa di instansinya. Penghasilannya terbilang
pas-pasan untuk ukuran hidup di kota metropolitan. Tapi Ahmad boleh jadi
memiliki kecerdasan sosial di atas rata-rata pegawai lainnya.
“Nek, adik-adik, ayo sini makan malam sudah
siap”. Panggil Ahmad sambil membantu istrinya menyiapkan makan malam. Nenek tua
dan tiga cucunya segera membalas panggilan Ahmad, sambil tidak lupa berucap
syukur kepada Allah. Rupanya hari itu adalah hari pertama Nenek Tua dan ketiga
cucunya tinggal bersama keluarga Ahmad. Awalnya nenek tua penjual kantong
kresek bersikeras menolak ajakan Ahmad untuk tinggal bersamanya. Maklum, si
Nenek merasa rikuh, karena Ahmad bukanlah siapa-siapanya si Nenek, tapi melihat
ketulusan Ahmad untuk membantu, dan demi masa depan ketiga cucunya yang saat ini
sudah putus sekolah, maka Si Nenek tidak punya alasan lain, kecuali menuruti
bujukan Ahmad.
Tinggal di
rumah sederhana tidak membuat Ahmad lantas berkecil hati, untuk membantu keluarga
Si Nenek. Ahmad yakin Allah meridloi tindakannya, buktinya setelah beberapa bulan
berselang, suasana rumah Ahmad jadi lebih semarak. Rizkinya juga tidak
berkurang, karena nyatanya Ahmad sekarang justru bisa merenovasi rumahnya untuk
menambah kamar bagi adik-adik barunya, karena rizki adalah rahasia Allah Yang
Maha Kaya. Ahmad dan istrinya seperti
baru menemukan orang tua pengganti Almarhumah Ibunya.
Sungguh indah dunia ini, jika banyak Ahmad-Ahmad lain yang bertebaran di muka bumi. Tidak akan ada lagi gelandangan tinggal dibantaran sungai, di kolong-kolong jembatan dan dipinggir rel kereta api. Semoga akan banyak lagi Ahmad-Ahmad lain yang menyemarakan dunia ini, termasuk anda yang baca cerita ini, Semoga.
Sungguh indah dunia ini, jika banyak Ahmad-Ahmad lain yang bertebaran di muka bumi. Tidak akan ada lagi gelandangan tinggal dibantaran sungai, di kolong-kolong jembatan dan dipinggir rel kereta api. Semoga akan banyak lagi Ahmad-Ahmad lain yang menyemarakan dunia ini, termasuk anda yang baca cerita ini, Semoga.