Senin, 01 Mei 2017

Nenek Penjual Kantong Kresek





Hari Jum’at itu Matahari bersinar cukup menyengat. Ahmad bergegas menyelesaikan sisa pekerjaan menjelang waktu suara Adzan berkumandang memanggil  untuk menunaikan sholat Jum’at.  Setengah berlari, dengan sigap Ahmad mengganti sepatu dengan sandal jepitnya, yang setia menemani menapaki jalan ketaqwaan menuju arah Masjid Raya, yang biasa jadi pilihan  untuk sholat Jum’at, jika waktu dan pekerjaan di kantor agak sedikit longgar. Maklum antara Kantor tempatnya bekerja dengan Mesjid Raya kurang lebih berjarak satu setengah KM, cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki .
Mesjid di lingkungan kantor memang ada, tapi hari itu Ahmad terasa rindu untuk Sholat Jum’at di Mesjid Raya, sudah satu bulan lebih sibuk dengan pekerjaan, hingga baru kali ini sempat untuk sholat Jum’at di sana. Jarak yang harus ditempuh menuju Masjid Raya kurang lebih 20 menit dengan berjalan kaki, melewati taman kota yang siang itu ramai karena ada pameran kuliner nusantara, yang menyajikan aneka masakan yang menggugah selera. “Kayaknya enak nih, kalo pulang sholat mampir ke sini”, Ahmad bergumam sendiri, sambil menyusuri jalan setapak di taman kota.
Memasuki pintu gerbang Masjid, dilihatnya  seorang nenek tua penjual kantong kresek untuk bungkus sandal atau sepatu saat di mesjid, yang menjadi langganannya. Ada banyak anak-anak dan ibu-ibu yang  menggendong anak sambil menjajakan kantong kresek, tapi Ahmad selalu membeli kantong kresek dari seorang nenek langganannya. Wajah si nenek itu tampak berbinar saat bertatap mata dengan Ahmad. “Apa khabar Nek, maaf ya saya sudah lama gak sempat sholat disini”, sapa Ahmad sambil mencium tangan si Nenek, tidak lupa tangan Ahmad menggenggam erat tangan Si Nenek sambil menyelipkan selembar uang sepertinya pecahan seratus ribuan, sebagai ganti kantong kresek, yang biasanya diharganya tidak lebih dari dua ribu rupiah.  “Alhamdulillah Nak nenek sehat, kemana saja sudah lama gak kelihatan?”, Si Nenek balas menyapa.  Badannya yang mulai sedikit bungkuk ditelan usia, dengan raut muka yang teduh, namun sayup matanya menampakkan bahwa dia sedang menyembunyikan beban hidup yang berat. Ingin rasanya Ahmad berbincang lama dengan si Nenek, untuk sekedar ingin tahu bagaimana kondisi cucunya saat ini, apakah masih bersekolah atau tidak. Karena setahu Ahmad, sekolah di Jakarta memang tidak dipungut biaya, namun  tetap saja ada biaya lain yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan alat tulis, sepatu seragam, dan  tas sekolah, dan itu terasa berat untuk si Nenek yang tidak punya penghasilan tetap.
Ahmad tahu betul kondisi si Nenek dari cerita pada pertemuan sebelumnya. Anak dan menantunya  telah  tiada, dengan meninggalkan tiga orang anak yatim yang kini menjadi tanggungannya. Berjualan kantong kresek setiap Jumat, sedikit membantu beban ekonomi karena   umumnya jamaah masjid menyelipkan uang ganti kantong kresek, lebih dari harga kantong tersebut. Jadi kalo dihitung-hitung si nenek bisa membawa uang setiap jumat kurang lebih seratus ribuan, lumayan untuk sekedar menyambung hidup beserta cucunya. Ahmad tidak tahu, apa penghasilan lain si Nenek. Nyatanya Allah Maha penyayang, tetap memberikan rizki kepada siapapun tanpa pandang bulu. Allah  Sang Pencipta telah menggerakkan hati Ahmad untuk sholat Jum’at di Mesjid Raya, karena disana ada skenario Allah menurunkan rizki kepada seorang nenek melalui perantaraan tangan Ahmad.
Hingar-bingar kesibukan pekerjaan terkadang melalaikan kita untuk dapat berbuat lebih membantu kaum yang kurang beruntung. Mereka yang membutuhkan uluran tangan kita,  ada di mana-mana. Namun, sayangnya mata hati kita tidak cukup tajam untuk melihatnya. Terasa ringan untuk mengeluarkan ratusan ribu untuk sekedar membeli makanan melalui ojek online yang enaknya hanya selewatan lidah. Namun, terasa berat buat bagi sebagian orang untuk menyisihkan seribu-dua ribu rupiah setiap hari untuk mereka yang kurang beruntung. Ahmad mungkin hanya pegawai biasa di instansinya. Penghasilannya terbilang pas-pasan untuk ukuran hidup di kota metropolitan. Tapi Ahmad boleh jadi memiliki kecerdasan sosial di atas rata-rata pegawai lainnya.
 “Nek, adik-adik, ayo sini makan malam sudah siap”. Panggil Ahmad sambil membantu istrinya menyiapkan makan malam. Nenek tua dan tiga cucunya segera membalas panggilan Ahmad, sambil tidak lupa berucap syukur kepada Allah. Rupanya hari itu adalah hari pertama Nenek Tua dan ketiga cucunya tinggal bersama keluarga Ahmad. Awalnya nenek tua penjual kantong kresek bersikeras menolak ajakan Ahmad untuk tinggal bersamanya. Maklum, si Nenek merasa rikuh, karena Ahmad bukanlah siapa-siapanya si Nenek, tapi melihat ketulusan Ahmad untuk membantu, dan demi masa depan ketiga cucunya yang saat ini sudah putus sekolah, maka Si Nenek tidak punya alasan lain, kecuali menuruti bujukan Ahmad.
Tinggal di rumah sederhana tidak membuat Ahmad lantas berkecil hati, untuk membantu keluarga Si Nenek. Ahmad yakin Allah meridloi tindakannya, buktinya setelah beberapa bulan berselang, suasana rumah Ahmad jadi lebih semarak. Rizkinya juga tidak berkurang, karena nyatanya Ahmad sekarang justru bisa merenovasi rumahnya untuk menambah kamar bagi adik-adik barunya, karena rizki adalah rahasia Allah Yang Maha Kaya.  Ahmad dan istrinya seperti baru menemukan orang tua pengganti Almarhumah Ibunya.
Sungguh indah dunia ini, jika banyak Ahmad-Ahmad lain yang bertebaran di muka bumi.  Tidak akan ada lagi gelandangan tinggal dibantaran sungai, di kolong-kolong jembatan dan dipinggir rel kereta api. Semoga akan banyak lagi Ahmad-Ahmad lain yang menyemarakan dunia ini, termasuk anda yang baca cerita ini, Semoga.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar